Berita

Kecamatan Pandanarum Juarai Lomba Kuda Kepang

BANJARNEGARA-Group Kuda Kepang dari Kecamatan Pandanarum menjuarai Festival Kuda Kepang dalam rangka memeriahkan Banjarnegara Nyawiji 2016 di komplek balai budaya Banjarnegara Sabtu (9/7) kemarin. Sementara group kuda kepang Kecamatan Banjarnegara menjadi juara kedua, disusul group kuda kepang Kecamatan Sigaluh yang menjadi terbaik ketiga.

Festival Kuda Kepang dalam rangka Banjarnegara Nyawiji ini diikuti 20 peserta dari 20 kecamatan di Banjarnegara. “Selain untuk festival sebenarnya parade kuda kepang  ini diadakan untuk menyambut warga Banjarnegara yang bekerja di Jabodetabek yang tergabung dalam Lintas Paguyuban Banjarnegara.

Ketua Banjarnegara Memetri Budaya Aja ngasi Ilang (Bambu Aji) Tedjo Sumarno mengatakan festival kuda kepang tersebut adalah dalam rangka menghidupkan dan menguri uri kesenian kuda kepang di Banjarnegara sekaligus untuk menyambut dan mengenalkan budaya pribumi ini kepada para pemudik asal Banjarnegara.

“mereka kembali ke Banjarnegara dan harus mengenal budaya sendiri yaitu kuda kepang yang menjadi salah satu budaya pribumi di Banjarnegara. Saat ini tercatat secara resmi 356 group kuda kepang di Banjarnegara yang tersebar di Banjarnegara,” kata Tedjo Sumarno.

Tedjo menambahkan kegiatan festival kuda kepang sering diadakan di berbagai tempat di Banjarnegara, dan  agar terus berkembang perlu pembinaan dan pendampingan agar group kesenian tersebut terus eksis mewarnai seni dan budaya di Banjarnegara.

“selain dilombakan, festival ini diharapkan menjadi media silaturahmi bagi penggiat seni, pemerintah dan masyarakat Banjarnegara,” lanjutnya.

Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo yang hadir pada acara tersebut meminta agar festival Kuda Kepang di jadikan media yang tepat untuk menjalin komunikasi dan Silaturahmi antar group kesenian kuda kepang di Banjarnegara, warga Banjarnegara dan pemerintah.

“Juara itu nomor 2 yang penting jalinan persaudaraan antar group kesenian kuda kepang di Banjarnegara,” kata Sutedjo.

Bupati Sutedjo menambahkan Agama dan Budaya haruslah selaras, sebab agama dan budaya sudah tumbuh sejak dulu dan menjadi media untuk mempersatukan warga.

“Jangan sampai seni dan budaya kuda kepang di salah gunakan atau diselewengkan menjadi seni yang membawa dampak negatif dalam perkembangannya,” lanjutnya.

Sementara Ketua Dewan Kesenian Banjarnegara Otong Tjundaroso menambahkan dahulu Seniman kuda kepang benar-benar menjiwai, namun dalam perkembangannya ada yang malah memanfaatkan kuda kepang dengan meminum minuman keras hingga mabuk, ada juga siswa SD yang memanfaatkan media elektronik untuk memainkan kuda kepang saat jam belajar sekolah, yang ini harus di evaluasi.

Sumber : https://banjarnegarakab.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.